Review Drama dan Film

Review Film: Wanita Perkasa Tanah Sumba di Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Jangan berpikir dan berharap kalau review ini bakalan seperti orang-orang yang mengerti film. Dek Maya nggak ngerti pengambilan gambar, lighting,colouring, editing atau apapun yang mencakup soal teknis pembuatan filmnya. Nggak ada maksud untuk menggurui ataupun menghasut, hanya ingin berbagi perasaan Dek Maya setelah menonton film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak.

Berapa nilai versi Dek Maya untuk Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak? 8 dari 10. Jatuh hati sama filmnya dari sisi cerita. Film yang mengisahkan perjalanan Marlina (Marsha Timothy) ini kaya akan berbagai hal mulai dari budaya hingga sisi feminisme yang terkandung di dalamnya.

Film ini menceritakan seorang janda Marlina yang hidup di pedalaman sabana Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kediamannya didatangi oleh perampok bejat yang akan merenggut kehormatannya sebagai wanita. Awalnya, gubuk reot Marlina didatangi oleh seorang perampok dengan penampilan paruh baya, kurus dan berambut gondrong keriting. Dia adalah Markus (Egi Fedli). Fyi nggak penting si Markus ini juga berperan sebagai pak Budiman, si sastrawan maya di Pengabdi Setan.

Saat matahari mulai hilang, datang beberapa kawanan Markus. Singkat cerita, beberapa perampok yang telah memburu sapi, kambing, dan babi itu ingin memuaskan nafsu birahinya pada Marlina. Kasian banget kan tuh si janda cantik dikeroyok sama lakik ngehek. Nah awalnya si Markus ini sebelum ingin ena’ena’ minta masakin Marlina sop ayam, udah kenyang makan baru deh gitu-gituan.

Sebagai bentuk perlindungan diri, Marlina pun memutuskan untuk memberikan racun ke dalam sop ayam biar tuh perampok pada metong. Berhasil memusnahkan kawan-kawan Markus, tapi si Markusnya malah minta ena’ena’ dulu baru mam sop ayam. Alhasil Marlina terpaksa membunuhnya dengan mengambil golok dan memenggal kepala Markus hingga putus.

wp-1512654041387-408588083.jpg

Source : Instagram

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini menceritakan seorang janda yang berjuang untuk terbebas dari perampok dan menuntut keadilan pihak kepolisian. Ia pun terpaksa membawa kepala Markus sebagai bukti pertanggung jawaban dirinya. Dikemas dengan empat babak, penonton sangat dimanjakan dengan benang merah yang ada dalam setiap babak. Selain itu keindahan padang rumput luas di Sumba, nyanyian dan logat berbicara juga buat kamu kagum dan terpesona. Diselipi dengan candaan sederhana gue juga cukup terhibur karena bisa tertawa di tengah-tengah tuh film triller.

Kenapa sih film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ini jadi salah satu film Indonesia yang cocok untuk kamu tonton? Secara tidak langsung film tersebut punya makna dan potret tersendiri mengenai pandangan hidup bahkan realitas yang ada di Indonesia. Apa aja?

wp-1512654041229-16754927.jpg

Source: Instagram

1. Tak perlu gusar saat menghadapi masalah

Jelas terlihat bagaimana Marlina menghadapi para perampok itu dengan santai. Ia tak mencoba kabur, memukul, berteriak, ataupun panik. Ia mencoba mencari cara agar terbebas dari jeratan perampok dengan tenang dan tak gusar. Tapi bukan berarti apa yang dilakukan Marlina yang membunuh itu dibenarkan ya. Mungkin membunuh menjadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan Marlina untuk selamat dari perlakuan setan.

wp-1512654041081-794657208.jpg

Source: Instagram

2. Adat dan budaya

Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak juga kaya akan budaya. Rumah, suasana hingga pakaian khas Sumba juga digambarkan jelas. Selain itu, transportasi truk juga jadi pengetahuan tersendiri untuk Dek Maya. Jadi disana jarak antar rumah atau kampung dan bahkan kantor polisi itu jauh banget, aksesnya pakai truk yang datangnya juga bakal lama. Handphone juga bakal susah sinyal sepertinya di sana.

wp-1512654040865508807632.jpg

Source: Instagram

3. Potret kemiskinan di pedalaman Indonesia

Yang udah nonton film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak pasti tahu dong sosok pria bersarung yang duduk di sudut rumah Marlina. Dia suami Marlina yang telah meninggal ya bisa dibilang mumi. Himpinan kemiskinan membuat Marlina nggak bisa membiayai pemakaman suaminya. Dan si suaminya ini juga terpaksa harus jadi saksi kebiadaban para perampok. Salut banget deh sama aktingnya yang jadi si suami Marlina, busyet itu kagak pegel atau kesemutan apa duduknya begitu.

wp-1512654040601165859580.jpg

Source: Instagram

4. Sosok wanita yang digambarkan perkasa

Selain Marlina sendiri yang digambarkan sebagai wanita pemberani, ada wanita kuat lainnya di film tersebut. Novi, teman Marlina yang diperankan oleh Dea Panendra, cukup perkasa menurut gue. Dia udah hamil tua mau masuk 10 bulan tapi belum juga brojol. Kalian yang sudah nonton pasti tahu dong gimana perkasanya dia. Dalam salah satu scene Novi didorong oleh suaminya hingga tersungkur jatuh, tapi dia tetap bertahan dan bisa berdiri tegak. Bagaimana Novi mencoba menolong temannya dan berjuang melahirkan tentu cukup menunjukkan dirinya sebagai wanita kuat.

wp-15126540404011494814939.jpg

Source: Instagram

5. Citra polisi

Apa yang dilakukan petugas setelah Marlina berhasil bertemu dan membuat laporan pemerkosaan kepada pihak kepolisian? Gemaaayy ya. Polisi di film tersebut terkesan masa bodo dan tak bisa banyak diharapkan atas kasus Marlina. Dengan berbagai alasan ketidak sediaan sarana dan prasarana Marlina diharuskan menunggu kasusnya untuk diproses lebih dari sebulan. Hell!! kenapa pak polisinya nggak langsung kroscek aja sih pak ke rumahnya Marlina, sibuk main tenis meja aja deh pak hikss.

Terlepas dari itu semua, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini memang film yang menghibur. Sang sutradara Mouly Surya menggambarkan dengan jelas dan detail landscape Sumba, alunan musik dalam film tersebut juga syahdu. Akting para pemain juga udah lah big applause!! Sekarang mungkin kalau makan sop ayam jadi inget tante Marlina.

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply
    Cyntiara
    12 Desember, 2017 at 11:51

    Wah iya aku sih selama nonton, diluar gagal fokusnya indahnya pemandangan sumba yg bikin buaperrrr parrrahh T,T , gagal fokusnya sama yang meranin jadi mumi dari awal itu. Ga gerrakk sama sekalii. Mungkin itu peran yang paling susah, ketimbang disuruh gerak menurutku. Ceritanya sebenernya ringan, tapi dikemas luar biasa ya. Apalagi tambahan pemandangannya itu lho uwoww berasa pengen kesana dan sujud syukur jadi orang Indonesia dengan pemandangan yang really really well!!!

    • Reply
      anggimayavio
      12 Desember, 2017 at 13:25

      Yukyukyuk kak cuti kita kesana yuk. Agendakan yuk

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: